Selasa, 28 Januari 2020

Terima Kasih Yogya


Terima kasih Yogya untuk liburan singkatnya, aku merasa seperti pulang ke rumah. Tidak begitu banyak yang berubah memang, hanya saat ini dirimu semakin panas dan penuh sesak oleh kendaraan roda empat. Apalagi di akhir pekan, jalan raya  tidak hanya di penuhi oleh warga setempat tapi kendaran berplat ibu kota juga ikut memenuhi ruas-ruas jalanan. Macet.

Kunjungan kami kemarin tidak hanya memutar memoar antara aku dan kota ini, tapi juga membuat aku mengukir kisah baru di sini, menemukan banyak pemahaman baru, membingkai segala rasa yang bergumul menjadi sederhana, dan siap dengan segala pilihan yang harus diambil. Aku berjanji setelah perjalanan ini aku harus kembali dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Selama di Yogya, kita tinggal di rumah Budhe Adil, ini kali pertama aku ketemu Budhe, usianya sudah berbilang tujuh puluhan tapi tubuhnya masih sangat bugar. Rumah Budhe ini besar dan bentuknya masih tradisional bahkan lantainya pun masih dari semen lho. Kalo biasanya kesan rumah tua itu horor tapi tidak dengan rumah Budhe Adil. Saat pertama kali masuk kesan pertama dari rumah ini adalah “Adem”, hawanya enak gitu buat jadi tempat tinggal. Di rumah sebesar itu Budhe hanya tinggal berdua dengan cucunya, Mbak Avi namanya.

Ini adalah sosok yang akan aku ceritakan kali ini, sosok tangguh yang luar biasa. Mbak Avi ini yang menyambut kedatangan kami dan menghidangkan teh hangat.

Memang tidak ada yang sederhana dari sebuah perasaan , tapi jika tidak ada alasan untuk dimiliki melepaskan adalah pilihan terbaik bukan?
Percayalah segala yang hadir dan pergi, semua yang tumbuh dan patah, semua yang muncul dan hilang.
Pasti akan berganti.
Cepat atau lambat. Kau cukup membingkainya dengan sederhana.


270120




Selasa, 21 Januari 2020

Glimpse of Hope

Life is hard enough,

As much as you care you can't destroy yourself for the sake of someone else,
You have to make your wellbeing a top priority.
Whether that means you'd breaking up with someone you care about, letting go, or removing yourself from situation that feels painful.
You have every rights to "leave" and "create" a safer space for yourself.

Just smile and say you are Fine, 'cause nobody really cares anyway.

If you need to cry, just cry out loud, then forgive after all, and move on.

Let your tears water seeds of your future happiness


21 January 20

Rabu, 15 Januari 2020

“Na, how could you survive?”

Untuk beberapa waktu belakangan ini, pertanyaan diatas adalah yang cukup sering aku dapatkan dari beberapa orang terdekat yang mengetahui apa yang sedang aku hadapi. Entah apa yang ada di dalam benak mereka ketika mendengar ceritaku, hingga kalimat itu muncul. Aku bukan mencari perhatian, dukungan atau bahkan belas kasih dari orang lain atas apa yang aku hadapi saat ini.

Aku hanya butuh di dengarkan.

Menyadari bahwa diri ini adalah sosok yang sulit sekali percaya kepada orang lain untuk sekadar berbagi cerita, maka tidak heran jika hanya beberapa orang sajalah yang bisa dijadikan tempat cerita olehnya. Jika diri ini sudah menemukan bahwa ada orang yang bisa ia jadikan tempat cerita maka pasti dia adalah orang yang berhasil membuat diri ini nyaman dan percaya untuk membagikan ceritanya.

Sesiang tadi aku mendapatkan pesan singkat dari seorang teman yang sering sekali menjadi teman untuk bercerita. Dalam pesannya dia bertanya soal keadaanku. Aku jawab bahwa aku (tidak) baik-baik saja. Tetapi, dia menangkap sesuatu yang janggal. Maka, berakhirlah kami dengan berbincang satu sama lain. Hmm sebenarnya lebih ke mendengarkan aku bercerita. Hampir satu jam lebih kami berbincang, aku bercerita panjang lebar, dan dia apik mendengarkan.

Hingga kalimat itupun meluncur dari mulutnya.
“You are not okay, Na. I can’t imagine what would i do if i were you, that’s insane”.


Minggu, 12 Januari 2020

Tamu Tak Diundang

Siapa yang sangka bahwa tempat itu yang akan membuatmu kedatangan tamu yang tak diundang,
Siapa sangka bahwa tempat itu yang akan mengantarkanmu pada luka yang menganga saat ini.
Siapa yang sangka bahwa tempat itu yang menjadi alasan kau harus menata kembali perasaanmu yang telah hancur berantakan sendirian.

Dulu, kau butuh waktu bertahun-tahun untuk menata kembali perasaanmu, kau butuh tahunan untuk merawat luka itu hingga kering dan kau butuh waktu yang tidak sebentar untuk ada dititik berdamai dengan semua luka itu.
Tapi, dia datang dengan jumawanya tanpa permisi, masuk kedalam hidupmu menajanjikan banyak hal, menjamin semuanya akan baik-baik saja, dan meyakinkannya berluang kali.

Selasa, 31 Desember 2019

Penutup 2019


Ketika kebanyakan orang merayakan akhir tahun dengan gegap gempita kembang  api, membuat resolusi, dan berlibur bersama keluarga. Aku disini hanya ingin merefleksi semua peristiwa yang terjadi selama 365 hari kemarin. Banyak hal yang sudah aku lalui.

Semua kegagalan, kecewa, bahagia, ragu, takut, pertemuan tak terduga dan perpisahan hadir menjadi episode yang silih berganti di tahun ini.

Maha Baik Allah dengan segala rencanaNya. Semua episode itu menjadi pelajaran berharga bagi diri ini dan meyakini bahwa “Kehidupan” adalah sekolah terbaik.

Kau akan belajar bagaimana berdamai dengan diri dan keadaan.
Kau akan belajar untuk lebih menghargai sebuah pertemuan.
Pun kau akan belajar untuk tidak meletakan harapan terlalu tinggi karena kau tahu bagaimana sakitnya kecewa.

Kau akhirnya juga belajar bagaimana menyederhanakan sebuah perasaan untuk tidak terlalu berlebihan.
Bahagia sewajarnya
Sedih secukupnya

Aku ingin menutup tahun ini dengan “Do’a dan terima kasih terbaik” untuk diri ini, karena dia sudah mau melangkah sejauh ini, mau bertahan sampai di titik ini, mau bangkit dari masa-masa sulitnya dan masih meyakini bahwa esok ada janji kehidupan yang baru.
Insya Allah,

PNB,
311219



x

Jumat, 13 Desember 2019

Mandiri

Sabtu ini kebetulan saya menggantikan tante menemani si kakak untuk hadir di kegiatan sekolah.

Ada agenda rutin ekskul setiap minggu dari sekolahnya, kebetulan sepupu saya mengambil ekskul renang. Jam 7 pagi kami sudah datang ke kolam untuk berkumpul dengan yg lain

Sambil menjinjing pelampung saya mengantar si kaka untuk ikut pemanasan bersama teman2nya yg lain. Kemudian saya duduk di banku kayu yg berhadapan lgsg dgn kolam. Sambil sesekali melirik ke tempat si kakak dan teman2nya.

Di samping saya sudah berjejer beberapa tas, seertinya sih tas anak laki2 karena gambarnya spiderman hehe. Benar saja selang satu jam kemudian ada dua anak lelaki yg berlarian menuju tas yg ada di samping saya.

"Kamu bawa uang ga?" tanya anak lelaki yg bertubuh kurus
"Bawa, yuk jajan" jawab temannya