Langsung ke konten utama

Postingan

Mr. Jerami

Bangunan beralas kayu dan beratap jerami itu adalah tempat  dimana aku menyimpan memori dirimu karena di tempat inilah aku bertemu denganmu. Rambut hitam, mata tajam, alis tebal, senyum yang masam, dan hampir selalu datang terlambat. Ini deskripsi tentang dirimu yang masih bisa aku ingat. Sebelum akhirnya aku benar-benar mengingat siapa dirimu. Entah kenapa diawal pertemuan kita, aku tidak memiliki kesan baik terhadap mu. Dimataku kamu hanya seseorang yang cukup pintar tapi hampir selalu datang terlambat dengan rambut hitam yang selalu berantakan. Kita memang tidak memiliki kedekatan satu sama lain, hanya mengenal nama masing-masing. Cukup. Hampir 14 tahun dipisahkan oleh waktu. Aku berjalan dengan kehidupanku yang baru, tinggal di sebuah desa yang begitu tenang, pergi meninggalkan  segala ingar bingar disana, berharap menemukan cerita yang baru. Dan kau berjalan di kehidupanmu, melintas samudera, menginjak tanah impian (katanya), menikmati tiap jengkal ...
Kadang kesadaran itu hadir tanpa diminta, menyusup kedalam hati, seketika memberikan pemahaman yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, menyebarkan ketenangan, membangun sebuah keyakinan. Jika Selama ini aku berusaha menutup mata akan semua yang erjadi , menyangkal kemudian meyakinkan diri bahwa semuanya hanya angin sore yang akan segera berganti. Ternyata aku keliru. Persoalan ini semakin rumit, semakin menggulung simpul, semakin besar. wajar saja ini semakin rumit karena aku tidak mau mengakuinya, benar-benar menutup mata, berlomba mengutuk bahkan sampai hati menyalahkan tuhan. Tapi, semesta begitu baik masih memberiku kesempatan untuk menyadari bahwa simpul itu bisa diurai jika aku mau,  Bahwa gulungan masalah itu bisa mengecil jika aku mau,  Dan bahwa semuanya akan membaik jika aku mau.

Yang Sebenarnya

Ramai tapi hampa Penuh tapi kosong Tersenyum tapi hambar Itu yang kita lakukan. Hanya memenuhi sebuah tuntutan agar terlihat bahwa kita “ baik-baik saja” yang nyatanya kita  tidak sedang baik-baik saja. Sudah fasih sekali diri ini harus bermain peran dalam menutupi luka yang terus menganga tanpa kunjung kering. Kau yang dengan bahagianya tersenyum,dengan jumawanya tertawa, tanpa pernah mau menyadari bahwa  sebenarnya ada hati yang kecewa, ada air mata yang jatuh karena kau. Apakah kau sadar akan itu? Tidak!

MEN(dit)EMUKAN

Aku baru manyadari bahwa ternyata hidup itu soal menemukan dan ditemukan. Menemukan keinginan-keingian dalam hidup, Menemukan harapan-harapan baru untuk hidup, Menemukan makna-makna baru dalam hidup, Dan kau pun juga akan ditemukan. Ditemukan dengan orang-orang yang membantumu menuju tujuan mu atau justru membuatmu berbalik arah Atau ditemukan dengan peristiwa yang membuatmu bahagia atau sebaliknya Atau ditemukan dengan jalan dan kerikil yang mampu membuat kaki mu terluka atau semakin kuat Atau kau akan ditemukan dengan semua kemungkinan yang awalnya mustahil tapi justru terjadi.

Senja dan Kapsul Mesin

Senja mulai longsor di ufuk barat, cahayanya membuat bayang-bayang hitam di setiap benda yang dilewati. Klakson mobil bersahutan hampir disemua jalanan ibu kota, semua orang berlomba memacu kendaraannya segera menuju rumah untuk melepas lelah. Kepul asap motor membumbung di udara, gayanya lincah menyelip di tengah padatnya lalu lintas kota, tarikan gas yang menggerung-gerung menyiratkan pemiliknya ingin segera pulang. Jam tangan ku menunjuk angka lima. Artinya sudah saatnya jam  pulang kerja. Hampir semua transportasi public akan dipenuhi oleh orang-orang pulang kantor. Bus way, kereta, angkutan umum, ojek, mobil, motor semua tumpah di jalanan. Mustahil untuk dapat menemukan jalanan kosong di Jakarta di waktu-waktu itu. Kali ini aku berada di sebuah stasiun di kawasan perkantoran Jakarta, suasananya begitu ramai. Aku melihat langkah mereka cepat memburu kereta yang akan mereka naiki. Badan mereka lincah mneyelinap ditengah kerumunan antrian penumpang untuk memasuki k...

Sebuah Penghambaan

Langkahnya sedikit tertatih Lenganya cekatan memindahkan kruk disetiap langkahnya yang ia genggam di salah satu lenganya. Senyumnya damai menenangkan. Garis wajahnya tegas menjelaskan berapa banyak hujan yang telah dia lewati. Mataku terpaku melihat sesosok lelaki ditengah hilir-mudik orang-orang yang begitu ramai. Dia berjalan perlahan melewati jalan yang berundak-undak pergi menuju surau. Mengenakan baju terbaiknya lengkap dengan peci dikepala.  Ini hari jum’at. Jam ditangan ku sudah berdetak di angka setengah dua belas. Sebentar lagi waktu sholat jum’at. Dia tak diberi fisik sempurna oleh Sang Maha Sempurna. Tapi jiwa penghambaanya sempurna dari manusia yang punya fisik sempurna. Dia tak diberi nikmat menjadi terkenal layak pemain cabaret. Tapi kezuhudanya membuat ia terkenal di penduduk langit. Ditengah ketidaksempurnaanya ia berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini meski harus tertatih dengan kruk nya. Ia sadar bahwa  ap...

SUPPORT SYSTEM

Ada yang menarik dari matakuliah semester ini. Namanya modifikasi perilaku. Tiba-tiba gue suka sama mata kuliah ini. Entah emang karena dosenya yang PRO dan T.O.P BGT di bidangnya atau karena cara penyampaianya yang sama sekali gak bikin ngantuk dan bosen. Intinya KU SUKA! Ditengah-tengah beliau menjelaskan materi ada hal yang sangat gue garis bawahi. Begini beliau bilang “ untuk merubah perilaku itu kita butuh PARTNER, contoh dalam diet saja. Kita pasti akan cari teman yang sama-sama mau diet bareng kan. Untuk apa? Supaya ada yang mengingatkan kita kalo-kalo kita over saat makan. Begitu kan?” Nah, seketika kepala gue langsung mem- bold  kata-kata PARTNER. Ini penting banget untuk kita bisa cari partner dalam merubah perilaku. Tapi, sebenernya gak cuma untuk merubah perilaku aja sih, mencari partner dalam berbuat kebaikan juga perlu, supaya kita ON THE TRACK terus karena ada yang mengingatkan sekaligus menjadi alarm kalo-kalo kita agak melenceng dari  track...