Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Penghambaan

Langkahnya sedikit tertatih Lenganya cekatan memindahkan kruk disetiap langkahnya yang ia genggam di salah satu lenganya. Senyumnya damai menenangkan. Garis wajahnya tegas menjelaskan berapa banyak hujan yang telah dia lewati. Mataku terpaku melihat sesosok lelaki ditengah hilir-mudik orang-orang yang begitu ramai. Dia berjalan perlahan melewati jalan yang berundak-undak pergi menuju surau. Mengenakan baju terbaiknya lengkap dengan peci dikepala.  Ini hari jum’at. Jam ditangan ku sudah berdetak di angka setengah dua belas. Sebentar lagi waktu sholat jum’at. Dia tak diberi fisik sempurna oleh Sang Maha Sempurna. Tapi jiwa penghambaanya sempurna dari manusia yang punya fisik sempurna. Dia tak diberi nikmat menjadi terkenal layak pemain cabaret. Tapi kezuhudanya membuat ia terkenal di penduduk langit. Ditengah ketidaksempurnaanya ia berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini meski harus tertatih dengan kruk nya. Ia sadar bahwa  ap...

SUPPORT SYSTEM

Ada yang menarik dari matakuliah semester ini. Namanya modifikasi perilaku. Tiba-tiba gue suka sama mata kuliah ini. Entah emang karena dosenya yang PRO dan T.O.P BGT di bidangnya atau karena cara penyampaianya yang sama sekali gak bikin ngantuk dan bosen. Intinya KU SUKA! Ditengah-tengah beliau menjelaskan materi ada hal yang sangat gue garis bawahi. Begini beliau bilang “ untuk merubah perilaku itu kita butuh PARTNER, contoh dalam diet saja. Kita pasti akan cari teman yang sama-sama mau diet bareng kan. Untuk apa? Supaya ada yang mengingatkan kita kalo-kalo kita over saat makan. Begitu kan?” Nah, seketika kepala gue langsung mem- bold  kata-kata PARTNER. Ini penting banget untuk kita bisa cari partner dalam merubah perilaku. Tapi, sebenernya gak cuma untuk merubah perilaku aja sih, mencari partner dalam berbuat kebaikan juga perlu, supaya kita ON THE TRACK terus karena ada yang mengingatkan sekaligus menjadi alarm kalo-kalo kita agak melenceng dari  track...

PRIORITAS

Kalo dari kbbi priorotas itu /pri·o·ri·tas/   n  yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Setiap orang itu memilki kehidupan yang berbeda satu sama lain meski berada di lingkungan yang sama entah itu di tempat kerja, kelompok belajar, sekolah atau kampus. Sudah barang tentu urusan setiap orangpun pasti berbeda-beda tidak bisa di samakan. Kadang hal ini luput dari perhatian kita, seringkali kita menuntut seseorang untuk bisa memenuhi permintaan kita tanpa “tapi” , padahal masing-masing dari kita itu punya prioritas dan skala prioritas masing-masing. Gak bisa disamakan. Contoh: Si A dan Si B itu teman satu kelas, bahkan duduk sebangku, suatu hari si B bilang “Hari ini belajar bareng yuk ada materi yang ga ngerti nih” ajak si B “ Yaah maaf ni gabisa udah ada janji hari ini” jawab si A. Normalnya respon yang akan muncul dari si B adalah menyayangkan kalo si A gabisa belajar bareng hari ini tapi masih bisa memahami dengan bilang “ Oh iya ga...

The Day

Bangga, Mungkin itu kata yang mampu mewakili perasaanya saat itu. Setelah air mata, keringat, penolakan dan drama lainya yang mengiringi perjuangan ini akhirnya Allah sampainya ia di titik ini. LULUS! Ting! Tanda notifikasi masuk di ponsel ku. “ siapa yang chat subuh-subuh begini” gumam ku sambil membuka notifikasi whatsapp “Dek, hari ini sidang doain ya. Deg degan nih”   tulisnya pendek. “Mangat yaw, biidznillah LANCARRRRR” jawab ku singkat lalu memencet tombol send Beberapa jam setelahnya, aku melihat postingan foto bunga dengan ucapan selamat dari beberapa temannya, serta foto mereka denganya sambil menyunggingkan senyuman. “Alhamdulillah selamat ya , akhirnya selesai juga” tulis ku menjawab postingan foto yang dia post. “ Alhamdulillah nafaaa gue luluss” Balas nya dengan penuh emot senyum. Aku yang melihatpun ikut merasakan bahagia itu, Berkali-kali syukur ini terucap untukNya atas segala kemudahan yang telah DIA berikan yang dirasakan ataupun tidak, ...

Alasan Kenapa Harus Mulai Menulis (Lagi)

Waaah udah lama banget ga nulis yaa, Sebenernya gue suka nulis di notes belakangan ini tapi baru sekalimat dihapus lagi karena ngerasa ga pas, terus udah separagraf mentok bingung gimana ngelanjutin paragraf selanjutnya, atau pas udah nulis ga kepengen di post akhirnyaaa. Yasudah mereka hanya mengerak di kotak draft hehe. Tapi, sekarang gue mau diniatkan lagi untuk nulis ah. SE-MA-NG-AT Faaa! Bukan sok sok an pengen kaya blogger blogger terkenal gitu yang tulisanya viral, banyak yang like, di repost dimana-mana. Bukan itu sih tujuan gue nulis. Tujuan gue nulis itu cuma pengen menuangkan apa yang gue rasakan dan gue fikirkan atau hanya sekedar ingin mengabadikan peristiwa lewat tulisan gitu (cieee). Kalo udah nulis itu biasanya suka ada perasaan PLOONGG dan sadar atau enggak nulis itu sehat banget buat psikologis kita lho serius! Coba deh. Misal, pas lagi ada masalah, kesel sama orang bawaanya pengen mencak-mencak tapi ga bisa atau kesel sama orangtua deh karena...

Memahami Untuk Melapangkan Hati

Sepagi tadi ada yang menyadarkan gue lewat tulisanya di snapgramnya begini katanya Mendung ini sungguh kelabu, sekelabu hatimu… Air mata jatuh karena kau sudah tidak kuat menanggung beban. Kau menangis dan bertanya kepada Allah mengapa dipertemukan dengan orang sejahat itu, mengapa orang tersebut harus menjadi bagian dari hidupmu dan mengapa orang itu terus berada didalam kehidupanmu. Kau iri melihat orang lain terlihat bahagia, sedangkan kau tidak. Kau tahu mengapa Allah biarkan ia terus berada dalam kehidupanmu? Karena Allah tahu, ia adalah satu-satunya ladang amal dalam kehidupanmu. Pahalanya begitu besar jika kau bersabar, jika kau tetap menghormatinya, jika kau tetap berbuat baik kepadanya. Sehingga jika kau tiba-tiba dipanggil oleh Allah dan Allah bertanya kepadamu “ Wahai hambaKu, hal apa yang membuatKu pantas memasukanmu kedalam surga?” Kau bisa menjawab “ Selama didunia, aku berusaha bersabar atas ujian yang Engkau berikan , ya Allah. Engkau tahu, betapa ia menyiks...

Awas Copet!

Sore tadi waktu pulang kuliah hampir aja kecopetan di angkot (lagi). Ini bukan pertama kali gue hampir kecopetan. Dulu-dulu juga sering sih se-angkot sama yang katanya pencopet tapi alhamdulillah ga pernah jadi target buat di copet jadi biasa aja. Sampe akhirnya beberapa waktu lalu kali pertama gue hampir kecopetan diangkot. Ceritanya waktu pergi sama temen ada cowok naik,bawa tas ransel tapi kosong, terus duduknya deket pintu dan mepet salah satu ibu-ibu yang duduk deket pintu juga. Mungkin si cowo itu ngeh ibunya tau dia siapa, akhirnya doi pindah duduk depan gue. Awalnya, gue ga curiga sama sekali sama ini orang karena penampilan dia rapih banget tapi gue mulai curiga ketika doi ngeliatin gue terus dan tas yang gue pegang. Dari situ gue mulai agak risih ya, terus mungkin doi sadar gue risih diliatin terus akhirnya doi turun dan waktu dia turun itu dia sedikit melakukan hal kasar sama gue (ga usah diceritain lah ya detailnya) karena dia ga dapet apa-apa. Itu yang bikin gue agak...