Langsung ke konten utama

Cerita Umroh #1




Dulu sempet mikir kalo umroh itu adalah perjalanan mahal, cuma bisa dilakukan sama orang-orang yang punya uang aja. Makanya, punya impian bisa pergi ke tanah Haram itu kaya mimpi yg perlu effort besar banget. 

Aku berani nulis mimpi pengen umroh itu diusia 20an, setelah kerja, setelah bisa punya uang sendiri baru aku berani punya mimpi buat minta sama Allah

"Ya Allah aku pengen umroh, gatau kapan waktunya tapi tolong undang aku dalam keadaan terbaik menurutmu"

Itu adalah doa yang selalu aku rapal sejak berani bermimpi untuk bisa umroh. Aneh ya? Padahal mimpi itu gratis kan, kenapa harus nunggu kerja dulu baru berani mimpi pengen umroh? Hehe adalah pokoknya

Long story short, awal 2025 suami bilang

"Tahun ini Bismillah kita umroh yuk"

Deg! Freezing sesaat,

"Beneran yah? Ada uangnya? Qila gimana?" Tanyaku memburu

"Ayah baru bisa cuti akhir tahun, Masih ada waktu buat nabung, Bismillah, Qila di titip ke ummi gmna?"

"Kalo akhir tahun mahal yah soalnya peak season kan, libur sekolah juga, ayah yakin?" Jawabku memberi pertimbangan

"Yaa gimana baru bisa cuti akhir November" jawabnya.

Percakapan itu berakhir disana, belum ada keputusan pasti.

Bulan berganti bulan, sudah masuk pertengahan tahun, kami mulai memilih travel yang sesuai budget dan bisa membuat perjalanan perdana ini meaningful. Ga sekedar pergi tapi bermakna gitu. Bismillah memilih #JejakImani untuk keberangkatan November.

Kami daftar dan beberapa waktu kemudian kendala muncul, qadarullah bulan November ticket pesawat tidak issued :'(. Ditawarkan ke bulan Oktober, kami gakbisa karena Yaa cuti baru bisa di bulan November. Dilema sekali. Akhirnya, kami sepakat mundur keberangkatan ke tahun 2026. Mungkin Allah belum ijinkan kami berangkat di tahun ini, yasudah kami legowo saja :)). Keputusan ini kami ambil di Augustus akhir.

Lalu, September akhir kami ditawari kembali oleh pihak travel untuk ikut keberangkatan Oktober akhir. Kami Masih jawab tahun depan saja.

Besoknya, Qadarullah pemeriksaan di kantor suami yg awalnya dijadwakan Oktober dimajukan jadi akhir September. Artinya suami sudah boleeh cuti sejak Oktober pertengahan. 

Tiba-tiba suami kirim Whatsapp

"Ma, alhamdulillah pemeriksaan di kantor dimajuin minggu depan. Oktober ayah bisa ijin cuti. Bismillah kita berangkat Oktober akhir ya ma"

"Masya allah iya yah? Keburu gak ya? Untuk suntik dan pemberkasan, waktunya sisa 2 mingguan"

"Kita usaha maximal dulu, kalo ga bisa yasudah"

Dapet kabar itu rasanya kaya mimpi ya Allah, ini teh beneran ga sih? Keburu gitu 2 minggu? 

Ah, yasudah dicoba dlu aja, aku mulai pemberkasan, hunting Rumah Sakit untuk suntik dan akhirnya kami memutuskan bawa Qila berangkat. Masya allah pokoknya rasanya saat itu campur aduk, seneng, terharu, deg-degan, tapi harus sat set ngurus banyak hal. Cuma bisa lahaula wa laquwwata illa billah aja. Semoga Allah permudah segalanya.

Gak lupa tiap sholat berdoa semoga niatnya diluruskan, hatinya dilembutkan, badannya disehatkan, Qila bisa kooperatif, anteng, sehat, happy disana. Aamiin. Itu doa yang terus di ulang-ulang. 

Apakah gedebag gedebugnya selesai disana? Oh engga. Suami dan Qila yang gantian bapil, nunggu sehat buat suntik, ahamdulillah si aku sehat.

Tapi h-3 berangkat aku yang flu berat. Mata berair, kepala berat, idung meler bahkan sampe hari keberangkatan, masuk hotel untuk manasik terakhir sebelum malamnya aku berangkat kondisi Masih flu berat plus Qila ditengah-tengah manasik agak cranky karena nguantook, jadi aku gendong karena gamau sama ayah ;")

Sampe har itu Masih ga nyangka bisa berangkat, ditengah waktu yang mepet, Allah permudah segalanya,  dan bantuan dai travel yang sat set banget, pemberkasan via online, masya Allah tim #JejakImani sangat helpful. Semua dibantu dengan baik Dan sistematis sekali, jadi kami gak kebingungan ditengah waktu yang mepet pisan.

Alhamdulillah, biidznillah kami bisa berangkat.


Jkt, 31 Des 25





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menikmati peran

Kesimpulan dari perjalanan di 2024 ini adalah aku menikmati peran-ku saat ini. Iya peranku saat ini yang sebagai hambaNya, istri, ibu dan anak. Tahun ini lebih terasa aku jalani dengan kesadaran penuh dan berusaha bisa memaknai di tiap etapenya. Bukan berarti mulus tanpa ujian, Bukan berarti selalu berwarna tanpa kelabu, Bukan berarti damai tanpa gejolak Bukan, Rasa asam pahitnya ada banget tapi percaya atau tidak aku jauh lebih tenang dan siap menghadapi semua itu. Kalo bahasa kerennya lebih mindful lah karena aku lebih yakin bahwa apapun yang terjadi dalam hidupku adalah atas seizin Allah. Tugasku cukup sabar, Ikhlas dan terus berkhusnudzon atas takdirnya. That’s it. Selain itu di tahun 2024 ini aku juga merasa lebih produktif (as one   of my prayers). Aku mulai isi pelatihan ke sekolah-sekolah lagi, punya agenda tetap setiap minggu diluar halaqah, lebih sering ketemu orang lagi, Alhamdulillah fokusku diluaskan dan itu membuat aku jauh lebih happy, emosiku juga ebih s...

“Menerima” Seni Untuk Hidup Seutuhnya

Sekolah > Lulus > Bekerja > Menikah > Memiliki keluarga. Itu adalah bagian dari siklus kehidupan (yang katanya) ideal di masyarakat, di mana kehidupan berjalan dengan minim hambatan. Seolah semuanya terasa begitu mulus dan sempurna. Apakah benar kehidupan yang ideal itu seperti itu? Tentu saja tidak! Kehidupan ideal menurut orang lain belum tentu ideal untukku. “Ideal”  kata sederhana yang sebetulnya amat bahaya jika dipakai sebagai ukuran dalam menjalani kehidupan ini. Aku korban dari kata ideal ini (dulu). Sejak duduk di bangku SMA dulu, aku cukup dikenal sebagai anak yang idealis. Apapun yang aku lakukan harus berjalan sesuai dengan standarku. Tidak boleh kurang. Aku siap membayar setiap pencapaian yang aku inginkan dengan sebuah usaha yang tidak main-main.  Akhirnya, setiap usahaku itu memang membuahkan hasil. Pencapaian demi pencapaian berhasil aku dapatkan. Keberhasilan itu semakin menguatkan keyakinanku bahwa, untuk mencapai kesuksesan kamu perlu menjadi sos...

Kaleidoskop 2022

  Setahun vakum gak nulis apa-apa bukan berarti gue gabut dan gak bisa menceritakan apapun. Tapi, karena tahun 2022 itu nano nano banget buat gue, karena di tahun itu f or the very fisrt time i bacame a mother. Masya allah tabarakallah. Gue jadi Ibooook lho. Sejak dapet predikat itu kehidupan gue berubah gaess. Tolong jangan bayangkan kehidupan gue itu kaya ibu-ibu yang hepi hepi punya bayi, teteuup keliatan flawless , looks so gorgeous . Preetttt, itu sungguh ga ada sama gue. Setelah melahirkan gue justru merasa buluk. Berat badan naik hampir 20kg, begadang tiap malem sama bayi aja (karena setelah lahiran gue LDR sama suami), harus pumping tiap 2 jam, belajar menyusui sampe berdarah-darah, luka gue yang masih basah. Jujur ga ada cakep-cakepnya gue sesudah melahirkan tuh huhu. Bahkan gue ngerasain yang namanya baby blues lho, sungguh itu bukan mitos. Makanya kenapa wanita yang hamil kemudia melahirkan itu butuh banget dukungan dari lingkungan terdekatnya terutama suami. S...